Kamis, 04 Mei 2017

Blue Mosque Turki


 Blue Mosque (Masjid Biru) terletak di kota Istanbul, Turki. Masjid ini juga disebut Masjid Sultan Ahmed (bahasa Turki: Sultanahmet Camii. Camii artinya: masjid besar). Istanbul merupakan ibukota Kesultanan Utsmaniyah ( dari 1453 sampai 1923). Masjid ini dikenal dengan nama Masjid Biru karena warna keramik dan cat interiornya didominasi warna biru. Akan tetapi cat biru tersebut bukan merupakan bagian dari dekor asli masjid, maka cat tersebut dihilangkan. Sekarang, interior masjid ini tidak terlihat berwarna biru.

Masjid ini dibangun pada bulan Agustus 1609 atas perintah Sultan Ahmed I, yang kemudian menjadi nama masjid tersebut. Masjid ini terletak di kawasan tertua di Istanbul, di mana sebelum 1453 merupakan pusat Konstantinopel, ibukota Kekaisaran Bizantin/Bizantium. Berada di dekat situs kuno Hippodrome, serta berdekatan juga dengan apa yang dulunya bernama Gereja Kristen Kebijaksanaan Suci (Hagia Sophia) yang sekarang diubah fungsinya menjadi museum.
Sultan Ahmed I, menugaskan seorang arsitek kerajaan, Sedefhar Mehmet Ağa, murid dan asisten dari arsitektur terkenal Mimar Sinan untuk membangun masjid biru ini. Arsitek Sedefhar Mehmet Aga diberi mandat untuk tidak perlu berhemat biaya dalam penciptaan tempat ibadah umat Islam yang besar dan indah ini. Struktur dasar bangunan ini hampir berbentuk kubus, berukuran 53 kali 51 meter. Seperti halnya di semua masjid, masjid ini diarahkan sedemikian rupa sehingga orang yang melakukan Salat menghadap ke Makkah, dengan mihrab berada di depan. Pembangunan masjid ini memerlukan waktu 7 tahun atau selesai pada tahun 1616. Sultan Ahmed I wafat saat berumur 27 tahun, atau 1 tahun setelah selesainya pembangunan masjid ini. Kemudian dia dimakamkan di halaman masjid ini, begitu juga istri dan ketiga puteranya.
Dalam pembangunannya, menurut salah satu sumber, Sultan Ahmed I menginginkan untuk dibuat menara yang terbuat dari emas, atau dalam bahasa Turki ‘Altin’. Tapi sang arsitek memahaminya dg ‘Alti’, yg dalam bahasa Turki berarti 6. Sehingga jadilah sebuah masjid yg memiliki 6 menara. Namun Sultan Ahmed pun juga menyukai keenam menara masjid tersebut. Sebelumnya tidak ada masjid yg memiliki 6 menara seperti Blue Mosque.


Masjid ini dilengkapi dg 260 jendela. Ruangan ibadahnya berukuran 64 x 72 meter. Masjid ini memiliki bentuk persegi, yg terdapat kubah ditengahnya, yg dilengkapi dengan 4 setengah-lingkaran kubah dari 4 arah yg berbeda. Di sekitar masjid ini, juga dibangun sekolah, istana peristirahatan bagi Sultan, tempat pemandian, air mancur, rumah sakit, serta kamar-kamar yg disewakan saat itu.
Pada bagian dalam Blue Mosque dihiasi oleh 20.000 keramik handmade yg dibuat di Iznik city (Niceae) dg 50 disain bunga tulip yg berbeda. Keramik pada lantai bawah dibuat dg desain tradisional Turki, sementara keramik di lantai galeri dibuat dg disain bunga dan buah-buahan. Semua keramik ini didisain oleh seorang ahli keramik dari Iznik, Ksap Haci dan Baris Efendi dari Avanos, Cappadocia. Keramik di sekitar Blue Mosque sempat direstorasi setelah terjadi kebakaran di tahun 1574.

Pada lantai atas masjid ini, interiornya didominasi oleh cat biru. Lebih dari 200 kaca hias dipakai untuk jendela masjid yg memberi jalan bagi cahaya dari luar untuk menerangi masjid ini. Pada lampu-lampu masjid yg awal, dihiasai dengan emas dan batu berharga. Telur burung unta juga dipakai pada lampu utama masjid ini untuk mengurangi terjadinya sarang laba-laba. Seorang yg piawai dalam kaligrafi saat itu, Seyyid Kasim Gubari, juga diberi tugas untuk melengkapi masjid dengan hiasan tulisan Al Quran di dalamnya. Pada tiap semi dome (kubah setengah lingkaran) dilengkapi dengan 14 jendela dan 28 jendela pada kubah tengahnya. Kaca berwarna yg dipakai pada jendela-jendela ini adalah hadiah persembahan dari Ratu Venice kepada Sang Sultan. Hanya saja sebagian besar dari kaca-kaca ini sudah direstorasi agar tampak bagus.